Minggu, 23 September 2012

BAB 1 PROPOSAL TEKNIS

PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Dalam pembangunan wilayah maupun kota tidak terlepas dari sebuah isu atau permasalahan, dikarenakan perencanaan merupakan suatu proses untuk memecahkan masalah guna mencapai suatu tujuan. Untuk mengatasi isu dan permasalahan diperlukan adanya suatu sistem perencanaan, baik perencanaan wilayah maupun kota dengan tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Isu dan permasalahan wilayah dan kota memiliki perbedaan, dimana isu atau permasalahan kota menyangkut unsur fisik suatu wilayah seperti kondisi eksisting dan sarana prasarana, sedangkan isu dan permasalahan wilayah menyangkut unsur non fisik seperti perekonomian, sosial budaya, kependudukan dan pariwisata. Isu dan permasalahan wilayah strategis merupakan faktor berpengaruh dalam pembangunan wilayah, dimana isu dan permasalahan menjadi salah satu faktor penentu perencanaan guna pembangunan dan perkembangan wilayah.

Mayoritas pembangunan dan perkembangan wilayah yang ada di Indonesia tidak berlandaskan pada isu permasalahan strategis, sehingga masih muncul berbagai permasalahan yang sering dijumpai di wilayah seperti kesenjangan kota satu dengan yang lainnya atau aspek satu dengan yang lainnya karena lebih mementingkan perkembangan kota maupun aspek yang menonjol pada suatu wilayah. Suatu wilayah tidak dapat terlepas dari suatu permasalahan, tetapi dengan adanya perencanaan permasalahan tersebut dapat dikurangi.

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki pariwisata dan sosial budaya yang khas. Yogyakarta terdiri dari berbagai kabupaten, dimana masing - masing kabupaten memiliki potensi yang berbeda - beda. Salah satu kabupaten yang terdapat di Yogyakarta yaitu Kabupaten Bantul. Kabupaten Bantul merupakan kabupaten terbesar di Yogyakarta. Dengan topografi pantai dan perbukitan menjadikan Kabupaten Bantul kaya akan potensi pariwisata.

Potensi pariwisata di Kabupaten Bantul memiliki prospek yang baik untuk terus dikembangkan menjadi sebuah pariwisata terpadu yang dapat memanfaatkan sumber daya alam serta sumber daya manusia yang dimiliki oleh Kabupaten Bantul. Sektor pariwisata di Kabupaten Bantul sangat berkembang dan memiliki peringkat tiga di Indonesia sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Sarana pendukung pariwisata seperti hotel, pusat oleh-oleh, pusat kerajinan tangan, serta kampung tradisional juga terdapat di kabupaten ini. Kerajinan gerabah yang berada di Kampung Kasongan merupakan kampong gerabah yang cukup terkenal dikarenakan produk-produknya banyak digemari wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyaknya kegiatan pariwisata di Kabupaten Bantul membawa dampak baik terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten ini. Kabupaten Bantul masih memegang teguh adat dan budayanya. Acara kebudayaan yang sering dilaksanakan di Kabupaten Bantul, bahkan di lokasi pariwisata dapat menarik wisatawan lebih banyak. Sektor pariwisata dan budaya di Kabupaten Bantul dapat menumbuhkan potensi lahan pekerjaan dan sektor ekonomi, baik yang bergerak dalam sektor jasa, perdagangan, hotel, restoran dll.

Dibalik majunya perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten bantul, terdapat pula kesenjangan pada sektor sarana dan prasarana. Masalah yang sering terjadi di Kabupaten Bantul adalah masalah krisis air, banyaknya jaringan jalan yang rusak, kurang terintegritasnya desa wisata satu dengan desa wisata lainnya. Selain itu, permasalahan yang menjadi momok utama Kabupaten Bantul adalah adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan permukiman. Tingginya angka alih fungsi lahan sawah produktif membuat Pemerintah Kabupaten Bantul menempuh kebijakan protektif. Salah satunya menetapkan 700 hektar lahan sawah produktif menjadi lahan abadi.

Maka dari itu diperlukan sebuah sistem pariwisata terpadu yang dapat mengembangkan sektor pariwisata Kabupaten Bantul dengan melakukan upaya-upaya dan tahap perencanaan jangka panjang yang mengatur pariwisata, sarana pendukung pariwisata, penyediaan lahan pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar daerah pariwisata, pemerataan sarana prasarana, serta mempromosikan pariwisata Kabupaten Bantul. Selain pengembangan sistem pariwisata terpadu, dibutuhkan pula pengendalian alih fungsi lahan dengan memaksimalkan kebijakan protektif lahan pertanian, agar lahan pertanian di Kabupaten Bantul tetap berfungsi dan dapat menjadi lumbung padi Yogyakarta seterusnya.


1.2 TUJUAN DAN SASARAN
1.2.1 Tujuan

Tujuan dari studio perencanaan ini adalah membuat sebuah sistem pariwisata terpadu yang dapat menumbuhkan ekonomi lokal Kabupeten Bantul serta penekanan alih fungsi lahan melalui perencanaan jangka panjang 2012 – 2022.

Tujuan disusunnya proposal teknis adalah mengetahui informasi dan impresi awal terhadap Kabupaten Bantul melalui data-data sekunder, dan mengangkat isu-isu strategis wilayah dan kota sebagai tahapan pengenalan wilayah stud, serta penyusunan rencana kerja kegiatan lapangan.

1.2.2 Sasaran
Sasaran dalam studio perencanaan adalah:
1. Teridentifikasinya isu dan permasalahan di Kabupaten Bantul.
2. Teridentifikasinya sektor-sektor ekonomi yang tumbuh dan mendukung pariwisata Kabupaten Bantul.
3. Terciptanya sistem pengendalian lahan yang terpadu dan maksimalnya pengendalian lahan dalam menekan alih fungsi lahan di Kabupaten Bantul.
4. Terencananya sistem pariwisata dan sistem pengendalian lahan terpadu dalam jangka menengah (10 tahun)

Sedangkan sasaran yang akan dicapai dalam penyusunan proposal teknis ini antara lain:
1. Tersusunnya potret Kabupaten Bantul berdasarkan data sekunder.
2. Teridentifikasinya isu strategis wilayah dan kota dan mengintegerasikan keduanya guna mengetahui hubungan isu wilayah dan isu kota di Kabupaten Bantul.
3. Tersusunnya kerangka kerja.
4. Tersusunnya desain survei serta metode dan teknis kerja.


1.3 RUANG LINGKUP
1.3.1 Ruang Lingkup WilayahWilayah studi perencanaan adalah Kabupaten Bantul yang termasuk ke dalam wilayah hinterland Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Kota Yogyakarta sebagai pusat pertumbuhan. Secara tidak langsung daerah hiterland Kota Yogyakarta memiliki keterkaitan dalam pengembangan wilayah yang ditunjang dengan berbagai aspek. Berkembangnya penduduk dan permukiman daerah kota di Yogyakarta mengakibatkan ekspansi atau pelebaran permukiman hingga ke kawasan hinterland Kabupaten Bantul. Kabupaten Bantul disebut sebagai wilayah peri urban dengan segala perkembangan dan pertumbuhan yang terdapat di dalamnya. Permukiman Kabupaten Bantul berkembang cepat. Hal tersebut mengakibatkan beralihnya fungsi lahan pertanian menjadi lahan permukiman.


Luas wilayah Kabupaten Bantul 508,85 Km2 (15,90 5 dari Luas wilayah Propinsi DIY) dengan topografi sebagai dataran rendah 140% dan lebih dari separonya (60%) daerah perbukitan yang kurang subur. Kabupaten Bantul terdiri dari 17 kecamatan dan 96 desa.


1.3.2 Ruang Lingkup Materi
Kegiatan studio perencanaan ini membahas isu permasalahan wilayah dan isu permasalahan kota. Isu permasalahan wilayah yaitu hubungan berbagai aspek dan bidang antara wilayah satu dengan wilayah yang lainnya, sedangkan isu permaslahan kota yaitu permasalahan yang muncul dari dalam kota itu sendiri. Isu permasalahan wilayah dan isu permaslahan kota saling terkait dimana permasalahan kota dapat mempengaruhi permasalahan wilayah.

Dalam penyusunan proposal teknis ini, ruang lingkup materi yang akan dibahas adalah
1. Kajian Literatur
Pada bagian ini menyusun kajian literatur yang akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan proposal teknis meliputi materi perkuliahan yang didapat dan kajian lain yang mendukung

2. Potret Kabupaten Bantul
Pada bagian profil Kabupaten Bantul ini membahas mengenai posisi geografis, kondisi geografis, topografi atau kemiringan lahan, jenis tanah, klimatologi, tata guna lahan, sejarah Kabupaten Bantul, sarana dan prasarana yang ada di Kabupaten Bantul, pariwisata yang ada di Kabupaten Bantul, perekonomian, sosial budaya, serta isu dan permasalahan yang terjadi di kabupaten Bantul.

3. Kerangka Kerja
Kerangka kerja digunakan sebagai acuan kerja dalam penyusunan proposal teknis, kegiatan lapangan atau survei, dan penyusunan preskripsi yang dapat mengatasai isu permasalahan Kabupaten Bantul baik pada wilayah maupun kota.

4. Metode dan Teknis
Metode dan teknis merupakan desain survei yang digunakan untuk memberikan arahan dalam menyusun metode dan teknis dalam pencarian data yang dapat mendukung penyusunan rencana sistem pariwisata dan pengendalian lahan terpadu.


Kerangka Kerja

Sumber: Hasil kerja kelompok 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar